Merdeka Hot - Kabar mengejutkan datang dari vokalis grup band Linkin Park, Chester Bennington. Dirinya ditemukan tak bernyawa dalam keadaan tergantung di langit-langit rumahnya.
Pria berusia 41 tahun nekat melakukan aksi bunuh diri diduga lantaran faktor depresi. Chester meninggal tepat di hari ulang tahun sahabatnya, Chris Cornell yang sudah lebih dulu meninggal karena gantung diri di bulan Mei lalu
Faktor depresi seringkali dianggap menjadi penyebab utama seseorang bunuh diri. Dirangkum dari berbagai sumber, lebih dari 90% orang yang melakukan bunuh diri memiliki masalah kesehatan mental dan depresi adalah faktor risiko tertinggi. Lalu, apa sebenarnya yang menyebabkan seseorang depresi hingga berisiko bunuh diri?
Dilansir dari laman Mayo Clinic, Jumat (21/7/2017), penyebab depresi tidak bisa diketahui secara pasti. Namun beberapa faktor bisa terlibat dalam depresi yaitu perbedaan biologis, zat kimia di otak, hormon, dan karakter yang diwariskan atau genetika. Orang yang mengalami depresi biasanya memiliki perubahan dalam otak mereka. Perbedaan biologis otak inilah yang bisa menyebabkan depresi.
Sementara itu, zat kimia di otak atau neurotransmitter juga berpengaruh terhadap kemungkinan seseorang terkena depresi. Perubahan fungsi otak dan neurotransmitter memainkan peran penting saat berinteraksi dengan neurocircuits untuk menjaga suasana hati. Selain itu, ketidakseimbangan hormon diduga ikut terlibat dalam memicu depresi. Merdeka Hari Ini
Faktor yang paling kuat adalah genetika. Depresi lebih sering terjadi pada mereka yang memiliki orangtua atau kerabat sedarah yang memiliki masalah kesehatan mental seperti bipolar dan skizofrenia. Selain keempat faktor itu, ada faktor lain yang bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami depresi.
Beberapa faktor yang meningkatkan risiko depresi antara lain kejadian traumatik, gangguan kecemasan, penyalahgunaan alkohol atau narkoba, penyakit serius seperti kanker, stroke, dan jantung, pengobatan tertentu, sifat kepribadian seperti rendahnya harga diri dan pesimis, serta menjadi kaum minoritas yang tersingkirkan seperi LGBT.
Untuk Chester, dia dikenal sebagai pecandu alkohol dan obat-obatan terlarang. Karenanya , banyak pihak menduga Chester gantung diri akibat di bawah pengaruh dua zat terlarang tersebut.
Selain itu, Chester pernah bercerita mengalami trauma setelah menjadi korban pelecehan seksual ketika dia masih kecil dulu.
Mengatasi depresi
Depresi bisa diatasi dengan sejumlah cara seperti pengobatan dan psikoterapi. Keduanya dinilai efektif untuk kebanyakan orang yang mengalami dokter. Biasanya dokter dan psikiater akan meresepkan obat untuk meredakan depresi.
Obat yang diberikan adalah antidepresan yang berfungsi untuk memperbaiki mood pasie sehingga menurunkan risiko bunuh diri di kemudian hari. Jenis obat antidepresan yang diterima oleh pasien depresi berbeda-beda tergantung tingkat depresi. Selain antidepresan, obat lain bisa juga diberikan untuk meningkatkan efek antidepresan.Berita Terpopuler
Sementara, bagi kebanyakan pasien, mereka juga memilih untuk berkonsultasi ke dokter atau psikiater guna melakukan psikoterapi. Psikoterapi dikenal sebagai terapi bicara atau terapi psikologis dan bisa dilakukan secara rawat jalan. Psikoterapi dianggap efektif karena bisa menyembuhkan depresi dengan metode terapi perilaku kognitif dan terapi interpersonal.
Untuk seseorang yang mengalami depresi berat, selain menjalani psikoterapi dan meminum obat antidepresan, besar kemungkinan mereka akan menjalani rawat inap di rumah sakit kejiwaan. Hal itu dilakukan agar pasien depresi parah lebih mudah dikendalikan dan tidak membahayakan dirinya sendiri atau orang lain.SBONAGA
Metode baru untuk mengobati depresi berat
Ada banyak kesalahpahaman tentang depresi. Banyak orang yang menganggap bahwa untuk mengatasi depresi hanya dengan mengubah suasana hati, cara berpikir, dan ketidakseimbangan cairan di otak. Mereka yang menderita major depressive disorder (MDD) membutuhkan cara yang lebih dari sekadar itu.
Hal ini membuat para ilmuwan menemukan cara inovatif untuk mengobati depresi. Metode yang digunakan oleh peneliti adalah Emotional Faces Memory Task (EFMT) yang dikembangkan oleh dua peneliti dari Icahn School of Medicine. Peneliti mengidentifikasi emosi pada pasien dengan berbagai ekspresi wajah.
Meskipun kedengarannya sederhana, EFMT bertujuan untuk menyeimbangkan amigdala hiperaktif dengan korteks prefontal, bagian otak yang membuat keputusan terhadap informasi yang masuk. Selama tahap pengujian alat, gejala depresi pada pasien yang menggunakan EFMT berkurang lebih dari 40%.SBONAGA
Menurut pemimpin penelitian, Dr Brian Iacoviello, cara kerja metode ini sama baiknya dengan terapi obat. Malah cara ini memberikan rute pengobatan yang jauh lebih aman dan tidak mengganggu pasien.
Sementara itu, dikutip dari Foxnews, menurut Harvard Medical School, sel dan fungsi syaraf memainkan peran penting dalam MDD. Studi baru ini menunjukkan bahwa orang yang memiliki MDD membutuhkan metode pengobatan yang lebih baik daripada obat anti depresan. Agar bisa mengatur emosi lebih baik, identifikasi emosi pada wajah bisa menjadi salah satu caranya. Karena biasanya metode yang digunakan untuk mengatasi depresi berat adalah mengonsumsi antidepresan dan psikoterapi.
Baca Juga Berita : Nih! Cara agar Gamer Selalu Menang Main Mobile Legends


0 comments:
Post a Comment